Rabu, 26 Oktober 2022

Elegi Cinta Cantika Expres 77 (24 Oktober 2022)

 Elegi Cinta Cantika Expres 77 (24 Oktober 2022)




Ketika cinta hadir di penghujung bulan Oktober 

Menyeruak dalam dekapan hangat  kasih Mama, 

Senyum dan tawa tersusun indah di bibir 

Bercanda gembira menyusuri setapak dermaga

Saat kaki melangkah menuju Pelabuhan Tenau,



Dirimu telah menanti diriku di ujung dermaga, 

Menatap tanpa kedip dan membuka tangan,

Siap membawaku, menemaniku mengarungi lautan Timor, hanya untuk bertemu dengan mereka yang merindu 

Sanak saudara di Nusa Kenari...


Matahari, apakah aku salah karena terlalu cinta 

Atau rinduku yang terlalu besar?

Angin, apakah aku terlena hingga lupa diri, 

Hingga baru sesaat ku tinggalkan kota karang 

Kau mengujiku???


Di pesisir Amfoang  rasa nyaman yang pernah ada membuat rindu ini begitu dalam

Secara tiba-tiba lenyap berganti duka tak berujung 

Kau usik perjalananku menuju Dulionong terhenti secara paksa 


Merah, meliuk-liuk di ujung kemudi,

 menari menantang matahari 

Si jago merah beraksi datang tanpa permisi

Mencegat hariku bersamanya yang baru separoh...

Hitam pekat dan semakin panas menyentuh pori-poriku yang tipis..


Ya Allah, apa yang terjadi ini???

 Pekikan itu begitu menyayat hati

Sahut- sahut-sahutan tanpa henti...

Ada suara anak-anak yang ketakutan,

Ada bayi yang bersembunyi di balik gendong sang bunda

Ada ibu yang mencari anaknya, 

Ada ayah yang panik mencari sanak saudara yang tak terlihat netra

Ada adik yang menangis mencari kakaknya 

Ada kakak yang tak berdaya mencapai sang adik 

Semua orang tanpa terkecuali hilang kemudi dan tak terkendali 



Ya Allah, lindungilah kami...

Mengapa begitu cepat tubuhnya terbakar 

Membuat diriku sendiri hilang arah antara hidup dan mati

Antara bimbang dan ragu untuk mengambil keputusan...

Hanya ada satu jalan yang harus dilakukan...


Bismillahirrahmanirrahim...

Aku serahkan hidup dan mati ku hanya padamu Ya Allah...


Namun, perjuangan belum usai. 

Di mana mereka sanak dan saudara ku yang lain?

Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk memulai, 

Mereka tak nampak olehku maupun oleh TIM SAR, 

Ke mana????


Ya Allah, dipermainkan ombak besar dan sengatan matahari, 

Apakah mereka baik-baik saja ..

Aku ingin pulang,

Aku tak takut tak bisa bertemu lagi

Aku tak ingin pulang sendiri 

Tetapi harus bersama dengan mereka karena kami telah berjanji untuk melangkah ke tujuan yang sama.

Apa kata orang di Alor nanti?

Jika hanya aku yang melangkah sendiri



Ya Allah, jika memang ini adalah takdir yang telah Engkau gariskan

Berikanlah petunjukMu agar kami mampu menyibak misteri ini...

Jika ada kesalahan atau kekeliruan yang telah kami lakukan...

Bukalah pintu maaf Mu dan kembalikan saudara -saudaraku.

Karena rindu kami ingin bertemu dan bercerita seperti dulu di Pelabuhan Dulionong



Cantika Expres 77,

Terima kasih karena telah mengajarkan aku arti kesetiaan dan kasih sayang 

Meskipun dirimu kini hanya tinggal cerita

Namun hingga akhir kisahmu ada sepenggal harapan bahwa persahabatan dan persaudaraan telah menembus semua batas perbedaan



((Kalabahi, 26 Oktober 2022))


Kamis, 06 Oktober 2022

Kisah perjalanan Al Qur'an Tua

 "ANTARA BANDA DAN ALURUNG"

          Gbr. Al Qur'an Tua di Alor Besar 

Sebagai umat Islam, wajib mengetahui rukun iman yang terdiri dari enam, yaitu iman kepada Allah Swt., iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab Allah, iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada hari Kiamat, terakhir iman kepada Qada dan Qadar.

Makna dari Iman kepada kitab-kitab Allah Swt. adalah, kita harus meyakini seluruh kitab Allah. Adapun kitab yang perlu diimanin oleh umat Islam terdiri empat kitab.

Keempat kitab tersebut ialah taurat yang diturunkan melalui Nabi Musa, kitab Zabur yang diturunkan melalui Nabi Daud, kitab Injil yang diturunkan melalui Nabi Isa, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Kitab itu diturunkan kepada para Rasul, untuk kemudian dilanjutkan ke seluruh umat-Nya. Dengan berpedoman teguh pada kitab-kitab Allah, niscaya manusia bisa selamat dari siksa api neraka.

Al Qur'an adalah salah satu mukjizat yang Allah berikan kepada nabi Muhammad SAW. Al Qur'an merupakan kitab suci yang menjadi pegangan hidup bagi seluruh umat Islam di dunia. 

Sejarah Masuknya Al Qur'an ke Alor

Al Qur'an Tua kulit kayu yang berada di Kabupaten Alor, Desa Alor Besar, kecamatan Alor Barat Laut, berasal dari Ternate Maluku Utara, pada masa Kesultanan Bayanullah. 

Saat itu Kepulauan Maluku adalah penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Banyak sekali negara -negara di Eropa  yang berniat menguasai sumber rempah - rempah tersebut. 

      Gbr. Al Qur'an  dari Ternate

Adalah sebuah perahu pengangkut rempah yang disebut perahu Tuma'ninah digunakan sebagai alat transportasi dari kesultanan Ternate. 

Perahu ini kemudian digunakan oleh 5  Gogo bersaudara untuk menjelajahi negeri -negeri di sebelah barat guna penyiaran dan penyebaran agama Islam. Selanjutnya penggunaan nama perahu Tuma'ninah ini tidak ditemukan lagi. 

Gbr. Gogo bersaudara (5 orang)

Menurut sumber sejarah adanya kesamaan tentang keberangkatan 5 Gogo bersaudara, bertepatan dengan kedatangan bangsa Portugis ke Malaku Utara yakni pada tahun 1511-1512 Masehi. Hal ini sesuai waktunya mendaratnya perahu Tuma'ninah di "Pantai Fetelei Bota" Kecamatan Alor Barat Laut pada tahun 1519.

Perahu Tuma'ninah yang digunakan untuk membawa 5 Gogo bersaudara tersebut menuju sebelah barat dan selatan melewati Laut Banda.

Ditengah perjalanannya, mereka kehabisan bekal dan memutuskan untuk singgah di pesisir pantai Bota yang bernama "Fetelei" di tanjung Bota. 

                     Gbr. Pantai yang indah 

Atas ijin Allah SWT, Sultan Iyang Gogo menancapkan tongkatnya ke pasir dan timbullah mata air dan diberi nama "Fei Fanja atau air Banda". 

Setelah merasa bahwa kebutuhan mereka telah terpenuhi, perjalanan dilanjutkan ke arah barat. 

Saat itu ada seorang raja dari kerajaan "Bungabali" yang berkuasa yakni Raja Baololong sedang beristirahat di salah satu wilayah kekuasaannya di daerah Alaang. 

Sang Raja melihat ada sebuah perahu layar sedang melintasi perairannya. Serta merta beliau melambaikan tangannya memanggil perahu tersebut. 

Setelah mendengar melihat lambaian tangan sang Raja itu Gogo bersaudara pun menepi. Terjadilah percakapan antara keduanya dan diakhiri dengan pertukaran cinderamata. 5 Orang Gogo bersaudara ini menyerahkan sebuah"nekara (Moko)" kepada sang raja. Sebaliknya Raja Baololong pun menyerahkan sebuah keris. 


Gbr. Bupati Alor di Mesjid Babusholah 

Dalam perjalanan ke arah barat menuju Tuabang di pulau Pantar mereka terdampar. Dan memutuskan untuk kembali ke BangMate  desa Alor Besar untuk bertemu kembali dengan Raja Baololong di Istananya Uma PusungRebong. 

Sang Raja kemudian meminta mereka berlima untuk tingga menetap di Alor Besar dan tinggal di rumah Pusung Rebong. Seiring berjalannya waktu, 5 Gogo bersaudara itu merasa tidak nyaman tinggal bersama raja di rumah tersebut. 

Mereka kemudian meminta sebidang tanah untuk dijadikan sebagai tempat tinggal sendiri. Raja pun menyetujuinya dan memberikan mereka tanah yang masih di dalam wilayah kampung Bang Mate-Alor Besar. Rumah yang mereka dirikan diberi nama "Uma Fanja atau Rumah Banda ". Rumah inilah yang menjadi tempat penyimpanan Al Qur'an Tua hingga saat ini. 

Di Uma Fanja misi penyebaran agama mulai dilaksanakan oleh 5 Gogo bersaudara. Berbekal Al Qur'an yang dibawa dari Ternate, mereka mulai mengajarkan tentang ibadah kepada Allah seperti sholat, mengaji, zikir dan perilaku hidup yang islami.

Mereka kemudian meminta lagi sebidang tanah untuk dijadikan sebagai lopo tempat beribadah dan mengaji. Raja Baololong pun memberikan sebidang tanah yang menjadi tempat cikal bakal berdirinya Mesjid Babusholah Alor Besar. Sejak saat itu semua kegiatan keagamaan di pusatkan di lopo, bukan lagi di Uma Fanja.

 Gbr. Pasukan GALASORO 

Waktu terus berjalan. 5 Gogo bersaudara itu merasa bahwa semua masyarakat Alor Besar sudah mengerti dan memahami tentang Islam beserta hukum -hukumnya. Mereka berniat melanjutkan perjalanan untuk menyebarkan agama Islam ke tempat lain.Namun niat mereka tidak disetujui oleh Raja Baololong. Untuk mensiasatinya raja akan menikahkan salah seorang putri bangsawan saudaranya bernama "Putri Bui Haki" dengan salah satu dari mereka. 

Sesuai dengan kesepakatan akhirnya Sultan sulung yang bernama "Iang Gogo" bersedia menikah dengan Putri Bui Haki dan menetap di Alor Besar. Setelah pesta pernikahan 3 orang Gogo pun melanjutkan perjalanan ke tempat lain. "Sultan Ilyas Gogo ke Tuabang Pantar Timur, Sultan Jou Gogo ke Baranusa Pantar Barat dan Sultan Boy Gogo ke Solor Flores Timur. Si Bungsu Kimales Gogo tetap tinggal bersama sang kakak Iang Gogo di Alor Besar. 

Tiga tahun kemudian, Kimales Gogo menggunakan perahu Tuma'ninah menuju ke Lerabaing Alor Barat Daya.

            Gbr. Nurdin Gogo, generasi ke 14 

Dari hasil pernikahan antara "Iang Gogo dan Putri Bui Haki, hingga saat ini sudah 14 generasi pewaris Al Qur'an kulit kayu ini.

Sultan Ian Gogo menikah dg Putri Bui Haki hingga saat ini  turun temurun terlahirlah 14 generasi pewaris alquran tua ini yakni

1. TAHIONONG GOGO

2. BOI RAJA TAHI

3. RAMANEHE BOI

4. BOI KAE RAMA

5. PATI RAJA BOI

6. SALAMA KAE PATI

7. ABOI JUGA SALAMA

8. TALUTI ABOI

9. NAE RAE TALUTI

10.GATI ANGIN NAE

11.OLA GATI

12.PANGGO OLA

13. SALEH PANGGO OLA

14. NURDIN GOGO

Sebagai kitab penuh dengan ajaran kebaikan, Allah SWT berjanji akan menjaga kandungan isi Al-Quran. Firman Allah: “Sungguh Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al Qur'an), dan Kami pula yang benar-benar akan menjaganya“. (QS. Al-Hijr: 9).

Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Alquran selama-lamanya hingga akhir zaman dari pemalsuan.

Hingga kini Al Qur'an Tua ini masih tersimpan di Uma Fanja, bersama generasi ke 14 Bapak Nurdin Gogo. 

     Gbr. Istana PusungRebong 

(FESTIVAL AL QUR'AN TUA ke 3, 04 Oktober 2022)



Written by: LILYANTI IDRIS,SPd

Source.     :Dari berbagai sumber.

Note.         : Tulisan ini belum sempurna jika ada kritik atau saran mohon disampaikan