LIFE IS A JOURNEY
LIFE IS A JOURNEY
Gbr. Doc.PribadiPernahkah kita berpikir tujuan akhir dari perjalanan kita akan berakhir di mana? Masing-masing dari kita tentu menginginkan tempat yang dituju tersebut adalah tempat yang menyenangkan. Tetapi kita tidak pernah berpikir bahwa untuk mencapai tujuan tersebut harus ada kondisi atau keadaan tertentu yang diperlukan.
Secara kodrati kita terlahir sebagai insan yang fitrah, suci dan bersih tanpa ternoda. Hanya kita sendiri yang bisa menentukan jalan hidup seperti apa yang akan kita tempuh untuk mendapat keridhaan dari Allah SWT.
Setiap bayi yang baru lahir pasti menangis ketika menyaksikan kerasnya dunia yang penuh dengan misteri atau rahasia yang sulit untuk ditebak. Jika harus memilih, mereka ingin kembali ke dalam kandungan ibu dan merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang hakiki.
Kerasnya kehidupan dunia adalah merupakan ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai umatnya. Kadang kita bersyukur atas nikmat yang diberikan, tetapi ada pula yang kufur nikmat dan akhirnya tersungkur karena kelalaiannya sendiri.
Maka sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu ingat bahwa sesungguhnya kita adalah makhluk yang lemah dan selalu berserah diri kepada Allah.
Suatu ketika ada siswa yang pernah bertanya seperti ini, "Bu apa perbedaan sekolah dan kehidupan? Langsung saya jawab, "Di sekolah kita belajar dan diberikan ujian. Sedangkan di kehidupan kita diberikan ujian untuk kita belajar."
Sebagai guru kita tidak bisa membuat siswa kita menjadi bijak selain pintar, kecuali pengalaman yang bisa membuat siswa kita menjadi bijak.
Dengan pengalaman mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Mari kita simak kisah sufi berikut ini dengan baik. Seorang guru yang bijaksana memiliki 3 orang siswa yang sangat diandalkan. Diantara ke 3 orang tersebut ada seorang yang paling disayang. Hal ini membuat dua orang siswa lainnya merasa iri hati dan protes terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh gurunya.
Menanggapi protes muridnya, sang guru memberikan tantangan untuk mereka bertiga. Masing-masing diberikan seekor ayam dan sebuah pisau.
Kalian bertiga pergilah ke mana kalian suka. Setelah kalian melihat tidak ada yang melihat maka sembelihlah ayam ini dan kembali pada saya.
Sang guru memberikan instruksi kepada murid-muridnya.
Ketiganya mulai menjalankan tantangan yang diberikan oleh gurunya.
Satu jam kemudian siswa pertama membawa ayam yang sudah disembelihnya. Dia datang dengan bangga dan sombong menyatakan bahwa dirinya yang paling hebat dari semuanya.
Selang sehari kemudian murid kedua pun kembali dengan ayam sembelihannya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan siswa yang ketiga tak kunjung datang. Hingga setahun kemudian siswa tersebut kembali dengan ayam yang masih hidup dan semakin besar.
Murid pertama dan kedua mencibir karena siswa yang ketiga tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan sempurna.
Sang guru pun mengumpulkan mereka bertiga dan meminta untuk diceritakan pengalamannya.
Siswa pertama menceritakan bahwa dia pergi ke belakang gedung dan di sana tidak ada siapa-siapa. Karena merasa tidak ada yang melihatnya dia pun menyembelih ayamnya.
Giliran siswa kedua bercerita. Dia pergi ke pinggiran desa dan di sana tidak ada siapa-siapa. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menyembelih ayamnya. Kemudian berbalik untuk menemui gurunya.
Dengan sedih siswa ketiga menceritakan pengalamannya. Dia telah masuk hutan, mendaki gunung yang tinggi, menyelam di dasar laut, bersembunyi di balik tembok yang tebal, berjalan ke padang pasir yang luas. Bahkan segala daya upaya telah ia lakukan tetapi tidak bisa melaksanakan tugas yang diberikan oleh gurunya.
Dia merasa bahwa ada yang selalu mengawasi segala sesuatu yang dikerjakan di mana pun dia berada.
Akibatnya dia gagal melaksanakan tugasnya menyembelih ayam yang dibawanya.
Sang guru pun tersenyum.Siswa ketiga adalah yang paling disayang, namun gagal melaksanakan tugasnya.
Sang guru pun menjelaskan di mana pun kita berada ada Allah SWT yang selalu mengawasi semua perbuatan kita yang baik atau pun buruk. Dialah Dzat yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.
Jadi kesimpulan dari cerita ini adalah alasan utama mengapa siswa ketiga yang paling disayang. Masing-masing kita bisa melihat dan berkesimpulan apa yang ada di pikiran sang guru.
Mau sukses atau tidak adalah tanggungjawab kita masing-masing. Life is a journey. Hidup adalah sebuah perjalanan from B (birth: kelahiran) to D (death: kematian). Kita tidak bertanggung jawab terhadap kelahiran atau kematian , tetapi diantara keduanya itu adalah tanggungjawab kita. Jika kita mau disipilin atau berubah adalah diri kita. Karena diantara B dan D ada C (choice: pilihan). Tidak perlu saling menyalahkan diri tetapi koreksi diri. Jangan menyalahkan orang lain atau menyalahkan apa pun yang telah terjadi.
Maka kita akan tahu tujuan akhir dari seluruh kehidupan ini adalah hanya untuk mendapatkan keberkahan dan ridho dari Allah SWT. Guna mencapai surga yang penuh dengan kebahagiaan yang hakiki dan kekal selama-lamanya.
Rabbaka Fa Kabbir
Kalabahi, 21 February 2023


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda