KLAM Yang KELAM
Musim masih berlanjut. Matahari sebentar muncul sebentar hilang berganti dengan hadirnya gerimis. Angin berhembus pelan melepaskan gerimis dalam genggaman agar menguap bersama sang waktu.
Aku termenung memikirkan apa yang akan terjadi terhadap ke 34 anak waliku. Sejak diberi kepercayaan untuk menjadi wali kelas 2 tahun lalu dari kepala sekolah sebagai tugas tambahan,aku menerima dengan ikhlas.
Mereka umumnya adalah anak ² dari golongan orang tua yang kurang mampu dan hanya sebagai petani ladang.
Berasal dari latar belakang tersebut, mereka umumnya cenderung santai dan tidak begitu serius dengan pendidikan.
Beberapa dari orang tua mereka adalah pegawai rendahan dengan penghasilan yang tidak seberapa.
Menjadi peserta didik rupanya hanya sebagai keadaan terpaksa yang mereka lakukan untuk bisa dianggap sejajar dengan orang lain. Selain itu tidak ada motivasi diri untuk memperbaiki nasib orang tua tetapi hanya ikut ramai saat semua orang bilang sekolah.
Hari ini saya terpaksa mengirimkan surat peringatan terhadap beberapa anak wali yang bermasalah dengan presensi.
Karena mereka adalah siswa kelas 12 yang sebentar lagi akan ujian akhir. Setiap guru mata pelajaran telah melaporkan jumlah kehadiran tiap siswa permata pelajaran kepada wali kelas di jurusan masing-masing.
Khusus anak waliku di kelas 12 TKJ ada beberapa siswa yang harus segera diberikan peringatan dini agar segera hadir di sekolah. Yang pertama ada si Efraim, yang ditinggal merantau orang tuanya ke Ambon. Awalnya ia tinggal bersama dengan saudara ayahnya, namun karena ada masalah ia terpaksa ke luar rumah dan tinggal berpindah-pindah.
Lain lagi dengan Yosep dan Yohanes sepintas mereka seperti kembar. Ternyata saudara sepupuan. Ayah Yosep seorang pemuka agama di pedalaman. Bersama istrinya selalu pergi dan meninggalkan Yosep bersama adik-adiknya. Orang tua Yohanes menitipkannya di rumah Yosep untuk bisa saling menemani karena sekolah kejuruan yang sesuai dengan keinginannya, lokasinya dekat dengan rumah Yosep. Namun bukannya rajin mereka jadi malas ke sekolah karena sering di tinggal.
Tetapi setelah adanya surat peringatan tersebut mereka mulai sadar dan mulai rajin hadir di sekolah.
Fatur, saat pembagian laporan hasil belajar di kelas 10. Namanya juga menjadi trending topik karena saking pemalasnya datang ke sekolah. Ayah dan ibunya sudah lama bercerai dan Fatur harus sering tidak ke sekolah karena harus menjaga adik-adiknya saat ibunya berjualan ke luar pulau. Setelah terjadi pergantian wali kelas, ini merupakan salah satu pr besar bagiku.
Saya sering melakukan homefisik tetapi jarang sekali bertemu dengan ibunya. Hanya ketemu dengan neneknya yang sudah tua, dan merasa tidak mampu untuk menjaga cucunya.
Charlos, cowok cadel yang sok ganteng. Ke sekolah hanya untuk kepentingan yang tidak jelas. Kadang dia hadir tetapi tidak mengikuti pelajaran. Jika ada peluang langsung pulang tanpa permisi.
Musa, si jangkung awalnya rajin ke sekolah dan cukup mampu di kelas. Secara tiba-tiba jarang sekali ke sekolah dan hilang tanpa sebab. Setelah diselidiki ternyata dia mempunyai masalah dengan pengampunya. Akibatnya dia pulang kampung dan tidak mau bersekolah lagi. Tetapi beruntung saya bisa mendapatkan nomor kontak kakak perempuan yang bekerja di Surabaya. Dia berjanji untuk menelpon kedua orangtuanya untuk meminta Musa bersekolah kembali.Akhirnya setelah dinasehati ia pun mau sekolah lagi.
Frengky nyong Timor, sudah diberikan motor untuk dipakai ke sekolah tapi masih malas juga. Bapaknya datang dan meminta maaf ia berjanji, bahwa anaknya pasti akan lebih giat lagi.
Saya terpaksa melakukan cara baru yakni absensi kehadiran setelah jam pelajaran ke delapan berakhir. Hal ini untuk meminimalisir mereka untuk tidak bolos atau pulang sebelum pelajaran terakhir.
Ternyata selain itu ada dua orang perempuan juga yang bermasalah dengan presensi.
Dorkas, nona dari Lakwati biasanya rajin tetapi sudah hampir seminggu tidak pernah hadir. Begitu saya tanya kepada teman-temannya mereka mengatakan dia sakit di kampung. Kami berupaya untuk mengirimkan surat kepada orang tuanya namun terkendala akses jalan yang putus karena banjir. Namun syukurlah dia sudah hadir dan datang ke sekolah.
Satu lagi perempuan yang belum hadir. Klam cewek Fanating yang cerewet dan lincah. Saya sering memanggilnya dengan sebutan baju dalam bahasa Jawa. Entahlah saya selalu menganggap mereka semua adalah anak-anak saya.
Dari penelusuran saya terhadap Klam ada desas desus yang saya dengar dari teman-temannya. Mereka sebenarnya malu untuk mengungkapkan namun setelah saya paksa ada yang berani cerita.
Katanya Klam ini terkena penyakit aneh, sering mual, muntah dan untuk sementara dia tidak tinggal bersama dengan ke-dua orang tuanya tetapi dengan neneknya.
Ketika saya tanya apakah sudah periksa ke dokter, mereka cuma saling pandang dan tersenyum. Secara mengejutkan dan berbisik Fina mengatakan, Ibu dia sudah berbadan dua !
Duuuuuaaarrrr.... Saya kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Bagaikan petir di siang bolong. Selama hampir 16 tahun menjadi guru dan sering dipercayakan sebagai wali kelas, baru kali ini saya mendapatkan masalah siswa yang begitu besar. Saya hanya minta agar mereka semua teman-temannya tetap diam dan tidak usah bicara apa-apa. Jikalau ada guru yang bertanya sampaikan saja bahwa kalian tidak tahu.
Beberapa hari kemudian saya kedatangan orang tua wali dari Klam. Mereka menghargai surat peringatan yang saya kirim. Saya ingin mendengar penjelasan langsung dari mereka tentang informasi yang saya terima.
"Ibu, kami minta maaf karena baru datang. Sebetulnya saat menerima surat dari ibu, kami merasa sangat malu dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi ternyata anak kami masih diperhatikan oleh sekolah.
Kedatangan kami kali ini adalah ingin menyampaikan bahwa mungkin apa yang ibu dengar di luar itu benar adanya. Anak kami sudah melakukan kesalahan dan konsekuensinya adalah saat ini dia tidak bisa hadir di sini.
"Mama, setiap orang punya kesalahan. Namun kesempatan kedua pasti ada. Saya akan bertemu dengan Kepala Sekolah untuk membahas hal ini. Terus terang saya sangat kecewa karena karena Klam sudah kelas 12, sebentar lagi ujian. Tapi sudah kejadian, kita tidak bisa menghindar.
Mama, bisa tinggalkan nomor kontak. Nanti saya hubungi kembali setelah pertemuan dengan menagament sekolah. "
"Baik, Ibu. Semoga ada jawaban untuk ini. Kami pamit dulu."
Hari ini saya menghadap Kepala Sekolah selaku pimpinan dan pemegang kebijakan untuk berdiskusi tentang persoalan ini. Sesuai dengan aturan sekolah pihak sekolah terpaksa mengembalikan siswa yang bersangkutan tersebut kepada orang tua karena telah melanggar peraturan dan tata tertib sekolah.
Tidak ada dispensasi atau kelonggaran untuk hal ini, meski pun ia adalah siswa kelas 12. Keputusan sudah diambil dan tak bisa diubah lagi.
Saya diminta untuk membuat surat pengembalian kepada orang tua. Ada perasaan kecewa namun peraturan harus ditegakkan, agar memberikan efek jera bagi yang lain.
"Selamat Siang Ibu, Kami datang lagi". Selamat siang Mama, mari rapat di sini. Mama, sebenarnya berat untuk saya untuk menyampaikan hal ini. Tapi pasti Mama mereka sudah bisa menebak. Di tangan saya ini ada surat pengembalian kepada orang tua. Dengan sangat menyesal terpaksa kami berikan agar kejadian yang serupa tidak terjadi pada siswa yang lain.
Klam kami kembalikan, karena tidak mungkin dia akan belajar dengan kondisi seperti itu bersama dengan teman-temannya. Pasti ada perasaan malu dan minder. Untuk itu kami sudah mengambil keputusan. Jika Klam ingin mengikuti ujian Paket C, maka pihak sekolah bisa memberikan rekomendasi agar ia bisa ikut ujian juga.
Atau mungkin jika Klam ingin mengulang kembali untuk bersekolah, kami siap memberikan surat mutasi ke mana pun dia akan melanjutkan. Tetapi untuk mengulang kembali di sekolah ini tidak bisa.
Bagaimana Mama ? Ada yang kurang jelas atau ada yang mau ditanyakan?"
"Tidak ada Bu, Terimakasih ini sudah cukup. Mungkin untuk saat ini. Biar Klam fokus dengan keadaannya. Jikalau ada keperluan kami akan datang kembali. Terima kasih lagi atas perhatian ibu selama ini. Kami pamit pulang Bu" .
"Mama, salam untuk Klam dari wali kelas", kataku.
Orang tua Klam sudah melewati gerbang sekolah, dengan langkah gontai. Hari ini harapan mereka pupus karena anak yang jadi kebanggaan telah salah langkah.
Saya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Berpikir dan terus berpikir tentang apa yang terjadi sekarang. Saya telah kehilangan salah satu anak wali saya dalam situasi yang tidak biasa.
Apakah saya salah karena telah membiarkan sesuatu yang terjadi di depan mata dan saya abaikan?
Apakah saya telah gagal menjadi wali kelas untuk anak didik saya?
Diantara sekian perjalanan saya merasa tidak mampu untuk mengendalikan mereka. Mereka yang seharusnya 34 akhirnya menjadi 33 karena ketidaktahuan yang terjadi.
Mungkin saya harus lebih banyak lagi belajar tentang ilmu memanusiakan manusia.
Langit kelam dengan awan hitam yang terus menyimpan butiran hujan yang menunggu untuk ditumpahkan.
Bagaimana pun hidup harus terus berlanjut.
Saya adalah manusia biasa bukan manusia super yang bisa mengendalikan sesuatu di luar batas kemampuan.
(Chapter 1, Day 22:2022)
