BUDAYA POSITIF
BUDAYA POSITIF
(Bagian satu)
Gbr. Doc. Pribadi
Ini adalah salah satu motivasi saya untuk mengikuti program yang sedang digaungkan oleh Kemendikbud yaitu Guru Penggerak. Setelah saya mengikuti seminar yang dilakukan oleh salah seorang Calon Guru Penggerak angkatan 7 asal kabupaten Alor Pak Ibrahim Mau, S.Pd.
Ada sesuatu yang telah mengusik ketenangan dan nurani saya sebagai seorang guru. Sesuatu itu telah mengubah mindset atau cara berpikir saya selama ini.
Jika flash back kembali selama kurang lebih 18 tahun menjadi guru telah banyak kekeliruan yang telah saya lakukan. Bukan tentang cara mengajar atau teori yang berkaitan dengan proses pembelajaran tetapi lebih pada perlakuan terhadap siswa.
Menurut konsep pendidikan yang dicetuskan oleh Kihajar Dewantara yang dibutuhkan di dalam lingkungan positif untuk tujuan terakhir adalah: "Guru menghamba pada murid." Sebagai guru kita tentu punya sifat egois yang sulit untuk terbendung. Kita ini kan guru, masak harus menjadi hambanya murid? Merekalah yang seharusnya menghamba pada kita.
Ternyata cara berpikir inilah yang keliru. Kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. "Menghamba artinya berpihak pada murid."
Artinya sebagai mereka siswa harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya agar merasakan kebahagiaan, merasa dihargai sebagai individu di kelas. Kepintaran adalah bonus.
Beberapa waktu lalu kita mengenal konsep "sekolah ramah anak, tetapi sekarang paradigma tersebut berubah menjadi "sekolah berpihak pada anak."
Budaya positif bisa terjadi jika semua pemangku kebijakan di sekolah bersatu. Sebagai contoh, jika ada siswa yang berpakaian tidak sesuai dengan peraturan sekolah, maka jangan hanya pembina siswa saja yang bertindak menegur tetapi, semua guru wajib untuk memberikan teguran yang sama. Jadi budaya positif ini bisa menjadi bersifat reflektif.
Ada beberapa pertanyaan yang muncul di depan kita Bapak, Ibu guru bisa menjawab setuju atau tidak setuju; 1) Hukuman dapat mendisiplinkan anak? 2) Pemberian hukuman dengan hal positif dapat meningkatkan disiplin anak ? 3) Memberikan penghargaan dapat meningkatkan motivasi anak?
Mari kita simak penelusurannya berikut ini. Ada istilah "dihukum karena penghargaan."
Hukuman mendisiplinkan anak ternyata bisa membuat anak menjadi terluka. Anak tidak boleh merasa terluka baik secara verbal maupun non verbal(fisik). Anak tidak memiliki rasa tanggungjawab untuk belajar. Ia mau belajar kalau diberi penghargaan, jika penghargaan hilang maka hilanglah semangatnya untuk belajar.
Untuk kurikulum merdeka peringkat kelas dihapus. Diganti dengan penjelasan mengenai kompetisi apa yang sudah dicapai oleh peserta didik, mana yang masih kurang atau perlu ditingkatkan lagi.
Jadi mulai sekarang kita harus merubah konsep berpikir dengan menerapkan disiplin positif dan nilai -nilai kebajikan universal di sekolah. Nilai-nilai ini dapat kita terapkan terhadap siswa agar mereka bisa berubah.(bersambung)
Rabbaka Fa Kabbir
Kalabahi, 16 February 2023


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda