MY HERO IS MY FATHER
MY HERO IS MY FATHER
Kulitnya nampak keriput, pandangannya tidak awas lagi, penglihatannya mulai berkurang tetapi pendengarannya masih tajam, masih bisa mengenali suaraku saat memberikan salam.
"Assalamualaikum,
"Walaikumsalam, Lily ya?
"Iya Bapa, ayo bangun. Ini saya bawakan sedikit lauk untuk makan siang.
"Dengan siapa datang? Koq sendiri saja?
"Bapa duduk dulu ya. Saya datang dengan Indo, dia ada lari di luar nanti saya panggilkan.
Begitu tudung saji, saya buka. Ternyata yang ada cuma nasi dan tumisan kangkung. Seandainya mama masih ada, tidak mungkin hanya ini yang tersaji di atas meja. Semua berbeda dan semua berubah.
Sambil membuka rantang dan memindahkan isinya ke dalam mangkok, kami bercerita tentang keinginan beliau yang katanya diminta oleh orang-orang tua untuk menjadi wakil rakyat. Saya pun hanya tersenyum dan mengiyakan saja.
"Lebih baik kita makan sekarang, nanti selesai baru dilanjutkan lagi. Kebetulan saya memasak tumis pare dan ikan rebus jahe, plus pepaya masak yang sudah saya potong - potong." Bapak tinggal makan saja, kataku penuh semangat.
Alhamdulillah Bapak menikmatinya dengan lahap. Hari ini saya berkesempatan untuk memasak, karena di hari lain tidak ada waktu. Jika sudah begini saya wajib mengantarkannya untuk Bapak juga. Senang sekali melihatnya menikmati masakan ku.
Setelah kepergian Mama, Bapak tinggal bersama dengan adik laki-laki nomor 2 Sahrin yang bekerja sebagai PNS di lingkup kantor Pertanian dan Perkebunan. Istrinya bekerja di Bank Mandiri Syariah di Kota Kupang, iparku belum bisa di mutasi karena di daerah kami belum ada bank Mandiri. Otomatis Bapak dan anak ini adalah orang bujang, karena tidak berkumpul dengan istri masing-masing.
Rumah yang dulu selalu ramai dikunjungi oleh orang nampak lengang dan sepi. Orang -orang yang biasa datang tak pernah muncul lagi. Jika ada maunya barulah nampak batang hidungnya.
Bapak adalah seorang pensiunan guru. Sudah banyak kiprahnya di dunia pendidikan khususnya di kabupaten Alor. Beliau adalah salah seorang tim pendukung berdirinya SMA Muhammadiyah Kalabahi. Selanjutnya beliau bersama beberapa pengurus Muhammadiyah mendirikan kampus Muhammadiyah Kelas Khusus yang terintegrasi dengan Universitas Muhammadiyah Kupang. Keinginan dan tekad yang kuat untuk memajukan Muhammadiyah di Alor sangat tinggi. Setelah itu beliau melakukan kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk membuka jurusan PGSD/PGMI di Kalabahi.Untuk wisuda PGSD dilaksanakan di ibu kota negara Jakarta.
Setelah adanya aturan tentang larangan pembukaan kelas jauh. Beliau kembali lagi ke Jakarta bersama dengan Ketua PDM Alor untuk usulan pendirian STIKIP Muhammadiyah. Alhamdulillah, semua usaha dan ikhtiar yang beliau lakukan tidak pernah mendapatkan halangan dan rintangan. Mottonya adalah: Hidup, hidupkanlah Muhammadiyah. Tetapi jangan cari hidup di Muhammadiyah.
Saat menjadi Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah beliau banyak menghasilkan output yang berguna. Ada beberapa siswa yang sudah berhasil menjadi orang sukses di Alor maupun luar Alor. Pada masa kepemimpinannya SMA Muhammadiyah Kalabahi sering dianggap sebagai sekolah buangan. Ada pun maksud dari pernyataan ini adalah setiap siswa yang bermasalah, biang keributan dan keonaran di sekolah asalnya pasti akan di keluarkan. Tidak ada satupun dari sekolah lain yang akan menerimanya. Tetapi tidak dengan SMA Muhammadiyah, mereka akan diterima dan dirangkul dengan tangan terbuka.
Kebetulan sekali Bapak adalah seorang guru senior BP/BK yang mengetahui tentang segala seluk beluk karakter siswa.
Dengan caranya beliau berhasil membina siswa-siswa yang bermasalah tersebut menjadi sadar dan berubah.
Satu lagi, siswa terbanyak yang bersekolah di Muhammadiyah beragama Kristen dibandingkan dengan yang beragama Islam.
Pernah ada beberapa anak polisi, tentara, pejabat dan China yang terkenal nakal di sekolah dikeluarkan dari sekolahnya. Tidak ada satu sekolah pun yang mau menerima mereka. SMA Muhammadiyah menyambut mereka dengan baik. Semuanya sekolah hingga selesai dan memperoleh ijazah.
Suatu ketika kata Bapak. Ada seorang ibu datang ke sekolah dan ingin bertemu dengan Bapak. Ibu itu datang dan membawa sebuah hadiah jam tangan mahal. Bapak tentu saja kaget dengan hadiah tersebut. Tetapi ibu itu tetap memaksa. Dia pun bercerita. Ini hadiah adalah pemberian dari anak Bapak. Ia senang sekali, karena berkat jasa Bapak dia sudah menjadi seorang pendeta. Kalau seandainya Bapak juga tidak menerima mereka waktu itu. Mungkin dia tidak akan jadi seperti ini. Perlu Bapak ketahui setelah lulus anak Bapak langsung ke Jakarta dan mengikuti test sekolah pendeta. Bapak tahu, anak itu lulus dan mendapat peringkat satu. Dari situ dia bertekad untuk memberikan sesuatu untuk Bapak. Dia memberikan hadiah jam tangan, karena katanya. Waktu mereka diterima di SMA Muhammadiyah Bapak hanya berpesan satu saja yaitu :Disiplin. Jika ingin berhasil disiplin waktu dan belajar itu kuncinya.
Sekarang kata-kata Bapak terbukti, kata Ibu tersebut dengan berurai air mata.
Saat ini dia bertugas pelayanan di Papua. Dia hanya titip salam untuk Bapak. Jika ada waktu dia akan pulang Alor dan bertemu Bapak.
Kini di usia senjanya Bapak masih berpikir tentang masa depan dan kehidupan orang lain. Beliau selalu berpesan bahwa kita harus ikhlas memberi. Tidak boleh bersungut-sungut jika menolong atau membantu orang lain.
Karena setiap harta yang kita miliki adalah bukan milik kita pribadi tetapi ada hak-hak orang lain, seperti anak yatim dan kaum dhuafa. Memuliakan orang tua adalah cara untuk menggapai ridho Allah.
Kini meskipun tak lagi muda, dia tetaplah tampan dan gagah di mataku. Bapak adalah orang yang masih kumiliki sejak kepergian Mama. Namun begitu ia selalu hidup di dalam hati dan disebut dalam sujud-sujud akhirku.
Saat ini harapanku adalah Bapak tetap sehat dan bahagia.
"MY FIRST LOVE"
Beliau ini Bapakku,
Kami mirip karena dia telah mewariskan
Kulit dan otaknya untukku
Gratis...tis...tis
Beliau suka membaca dan menulis
Mulai dari agama hingga politik
Dia bukan profesor atau pun doktor
Hanya seorang sarjana muda
Namun pengalaman hidupnya
Sungguh luar biasa
Berjuang dari titik nol
Untuk meraih sukses
Kini rambutnya sudah keperakan
Semangatnya tetap membara
Dia memanggilku
Ah Bapak, sehat terus ya bosque❤️




0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda