GURU HEBAT, GURU LITERAT
GURU HEBAT, GURU LITERAT
Nelson Mandela pernah berkata : ‘’ Pendidikan adalah senjata paling ampuh mengubah dunia.’’
Kalimat sederhana namun memiliki arti yang sangat mendalam bagi siapa pun yang membacanya dan membuat kebanggan bagi setiap yang menyandang gelar tersebut. Hal ini tidak bisa terlepas dari peran guru sebagai ujung tombak perubahan suatu bangsa ke arah yang lebih baik. Guru yang bermartabat dan memiliki kedalaman ilmu ibarat cahaya yang akan menjadi penerang di dalam kegelapan. Ia mampu memberikan jawaban bagi setiap orang yang membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang tidak mungkin dijawab sendiri. Hal ini dapat dilakukan jika guru tersebut memiliki kedalaman ilmu yang sangat luas untuk selalu mencari dan memperdalam ilmunya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan kebiasaan membaca dari semua sumber.
Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen no 14 tahun 2005 harus menguasai 4 kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, social dan professional. Keempat kompetensi saling melengkapi dan menjadi kerangka dalam berpikir dan bertindak bagi sesesorang yang dikatakan sebagai guru.
Menurut Wikipedia dalam teori generasi (Generation Theory), yang dikemukakan oleh Graeme Codrington dan Sue Grant-Marshall, (2004) Penguin, 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya yaitu (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964 ,(2) Generasi X, lahir 1965-1980 ,(3) Genersai Y,lahir 1981-1995, sering disebut generasi milenial, (4) Generasi Z,lahir 1996-2010 disebut juga Generation, Generation Net, Generasi Internet. Dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-1025. Kelima generasi tersebut memiliki perbedaan pertumbuhan perkembangan kepribadian.
Untuk mengimbangi kemajuan dan teknologi guru harus mampu untuk menjadi pioneer atau penggerak dalam mengimbangi perbedaan yang terjadi pada generasi alpha. Harus ada terobosan yang bisa dilakukan sebagai acuan untuk bergerak ke depan menyongsong tahun emas kemerdekaan Indonesia.
Bagi seorang guru kita dituntut untuk bisa meng up grade diri dengan dilandasi keterbukaan hati dalam menimba pengetahuan dan pengalaman dari berbagai pihak. Pribadi yang memiliki kualitas baik, tidak hanya berguna bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain dan lingkungan sekitar terkhusus di lingkungan tempat mereka mengajar.
Guru sebagai motivator dan inspirator bagi para guru lainnya serta membuka cakrawala akan hakikat tugasnya. Guru adalah sosok yang multitasking tugasnya tidak hanya mengajar atau berkutat dengan masalah sekolah saja tetapi mampu memposisikan dirinya sebagai sosok yang berguna baik di dalam maupun di luar sekolah. Mampu menjalankan tugas kependidikan maupun non kependidikan. Nyata dalam kerja dan inspiratif dalam tindakan.
UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. menurut data UNESCO, minat baca Indonesia sangat memprihatinkan hanya 0,001%. Artinya darin 1,000 orang Indonesia cuman 1 orang yang rajin membaca. Berdasarkan data tersebut kita bisa melihat bahwa generasi muda kita memiliki minat baca yang tidak semestinya. Generasi alpha ini lebih sibuk dengan bermain game online dan menggunakan gawai atau telepon genggam.
Guru harus bangkit dan menunjukan jati dirinya bahwa ia layak untuk menjadi sang pencerah yang bisa memberikan secercah harapan baru. Guru sebagai ujung tombak bidang pendidikan diharapkan mampu mengembangkan talenta yang dimilikinya adalah dengan menulis. Jika hal tersebut dilakukan maka peserta didik bisa diajak untuk membaca hasil karya gurunya dan secara tidak langsung menjadi inspirasi untuk yang lain. seorang guru mampu membagi pengalaman mengajar yang dialami dengan rekan sesame guru . Agar dapat menemukan solusi atas persoalan selama proses belajar mengajar berlangsung.
Guru sebagai penggerak literasi dengan menulis bisa mulai membentuk wadah literasi di sekolah masing-masing.. Mari kita mulai berpikir untuk menulis dan membuktikan apa yang akan terjadi. Saat tulisan kita dipublikasikan melalui blog/buku/ media social/ media massa, maka penting kita sadari bahwa tulisan itu sudah menjadi milik public.Sebagai seorang guru kita harus sudah siap untuk menerima semua komentar maupun kritik yang tajam. Kita harus yakin bahwa tulisan kita bermanfaat minimal pada diri sendiri, keluarga ataupun orang-orang terdekat kita.
Saat literasi semakin digaungkan dengan penggantian system ujian nasional berbasis computer menjadi Asesmen Nasional. Kita sebagai guru juga dituntut untuk meningkatkan minat baca kepada peserta didik. Sebagus apapun teori kita dalam menulis jika kita tidak segera untuk menulis, maka tidak akan terjadi apa-apa.
Rabbaka Fa Kabbir
Mebung 10 February 2023


1 Komentar:
Semangat literasi, Buun!
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda