"SIAPA DIA" (Part 2)
SIAPA DIA (part 2)
Saya baru saja merapikan buku tugas siswa yang ada di atas meja. Kejadian kemarin masih terbayang di ingatan. Bu Zahwa sampai menelpon berulang kali untuk menanyakan hal tersebut. Saya sendiri pun masih bingung. Karena seumur hidup baru kali ini pingsan di sekolah.
Kejadian kemarin sangat sulit untuk diterima oleh akal sehat. Rasa penasaran dengan sosok perempuan yang kutemui masih jadi misteri.
"Bunda sudah sehat, koq pagi-pagi sudah datang, Pak Irwan Wakasek kurikulum menyapa.
"Alhamdulillah, Pak. Saya baik - baik saja, kataku".
"Oya Bu, kalau tidak sibuk. Boleh ya, menulis beberapa ijazah. Ada siswa yang mau ambil hari ini."
"Baiklah Guru, balasku."
Saya adalah seorang guru yang baru saja dimutasikan ke sekolah ini. Awalnya saya mengajar di SMA. Sebenarnya saya agak kaget ketika diberitahu akan dimutasi ke SMK. Secara belum paham sistem pembelajaran yang ada di sana.Yang saya tahu, para pelajar yang tamat dari SMA bisa lanjut kuliah di perguruan tinggi. Sedangkan SMK merupakan sekolah kejuruan yang mempersiapkan lulusannya untuk terjun langsung ke dunia kerja.
Seiring berjalannya waktu saya pun bisa memahami dan mulai menikmati peran sebagai guru di SMK. Kebetulan mata pelajaran yang saya ampu dimasukkan ke dalam kelompok adaptif.
Menurut cerita yang saya dengar dari teman - teman guru yang sudah lebih awal bekerja di sini. Katanya dulu tempat ini sering dipakai oleh orang Belanda untuk menyiksa kaum pribumi. Antara percaya dan tidak saya hanya memakluminya saja.
Pernah ada kejadian beberapa siswa perempuan yang pingsan berjamaah. Setelah sadar mereka hanya mengatakan pusing kepala dan selanjutnya tidak ingat apa-apa.
Ah sudahlah itu bukan urusan saya. Intinya saya hanya fokus mengajar dan mendidik saja.
"Bunda, tunggu sebentar katanya mau cerita penasaran nich", Bu Zalfa tiba-tiba muncul dan mengagetkanku.
"Sabar eee sayang, pasti saya akan ceritakan tapi bukan sekarang," balasku. Saya mau ke ruangannya Pak Irwan, biasa tulis ijazah.
"Oke, lanjut Bunda."
___________________________________________________
"Assalamualaikum, Pak Guru.
"Walaikumsalam, masuk. Oh , Bu Lina. Mari silahkan. Tunggu sebentar saya ambilkan blangko ijazah dan daftar nilainya biar Ibu langsung tulis."
"Pak Ir, sudah lama mengajar di sini?
"Memangnya kenapa Bu? "
"Tidak juga, hanya ingin tahu saja."
"Kejadian kemarin itu sungguh di luar dugaan saya Pak,. Koq bisa saya pingsan. Padahal sebelumnya saya tidak merasakan apa-apa. Apakah ini ada hubungannya dengan para siswi yang sering pingsan ya?
Sudah Ibu, tak usah dipikirkan. Ini blangko dan nilainya. Tetap fokus biar tidak salah dalam menulis.
"Ibu, saya pergi mengajar dulu. Nanti kalau sudah selesai simpan saja di dalam map kuning itu.
Untuk mengatasi keheningan saya membuka murotal Ayatul Kursi melalui gawai. Ada perasaan aneh yang saya rasakan, tapi saya abaikan.
Ruang Wakasek kurikulum, terletak agak jauh dari semua ruang. Katanya biar Bapak Irwan lebih fokus mengurus jantungnya sekolah.
Tiba tiba saya dikejutkan oleh suara jatuhnya sesuatu di samping lemari. Begitu hendak saya meraihnya,. ada sesuatu yang sangat besar menabrak kursi tempat saya duduk. Seperti angin kencang dan menghilang di balik tembok.
Saya berusaha untuk menenangkan diri, sambil membaca surat surat pendek dalam Al Qur'an. Lantunan ayat-ayat suci pun masih tetap terdengar dari gawaiku.
Tersisa satu ijazah untuk hari ini, nanti esok saya akan lanjutkan lagi. Entah mengapa saya tidak ingin melanjutkan pekerjaan untuk hari ini.
Mebung, 3 Desember 2022
__________________________________________________




0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda