Minggu, 12 September 2021

NONA OENAEK (Part 2)

 

 

Ilustrasi  :Band Dewa 

Jam  menunjukkan delapan lebih lima belas menit waktu Indonesia Tengah. Meja makan sudah dibersihkan dari piring-piring kotor dan gelas sisa makan malam.

Rasty dan Yuli mendapatkan giliran untuk mencuci piring di belakang dapur. Suasana malam itu sedikit sepi karena semua kelelahan karena perjalanan yang melelahkan siang tadi.

Oenaek adalah nama dusun 1 di desa Camplong 2 Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang. Dalam bahasa asli Timor Oenaek terdiri dari 2 kata. Oe=air. Naek=besar atau banyak.

Jadi oenaek adalah air yang banyak atau besar. Air banyak seperti kolam sumber air. Air besar seperti kali yang lebar dengan air derasnya.

Hampir semua tempat yang berada di kawasan ini selalu berawalan Oe. Misalnya Oekabiti, Oesao, Oelamasi, Oetune dan masih banyak lagi.

Oenaek sendiri dikelilingi oleh dua kolam besar yang melingkupinya. Di belakang rumah bapak kepala desa terdapat sebuah kolam kecil. Di dekat kolam itu berdiri tegak sebuah pohon jati yang sudah berumur puluhan tahun. Pohon itu jika malam hari terkesan seram dan membuat bulu kuduk merinding karena selalu dihinggapi burung hantu. Konon katanya jika ada ada burung hantu berarti sesuatu.

Entah benar atau salah hanya Allah Maha Tahu. Kita sebagai insan beriman pastilah meyakini bahwa burung hantu juga adalah ciptaan Allah.

Setelah membereskan semua, Rasty langsung menuju ke belakang untuk membersihkan tubuhnya karena sejak tadi ia belum mandi. Alangkah segarnya walaupun ada sedikit perasaan tidak enak ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi.

Air keran yang jernih dan sejuk, dipakainya untuk berwudhu. Sejak siang  ia melakukan shalat dengan bertayamum saja.

            Ia melaksanakan shalat Maghrib dan Isha secara jama'k taakir. Karena waktu shalat Maghrib telah lewat waktunya. Ia bersujud mengadap kehadirat-Nya mengucap syukur  karena telah melewati hari ini dengan baik. Tak ada masalah atau halangan ia dan teman-temannya melakukan kegiatan di dusun tadi.

Usai shalat, ia mengeluarkan Al Qur'an kecil dari dalam tas ranselnya. Al Qur'an ini adalah sahabat yang selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Jika dalam kegiatan dan ada waktu senggang selalu ia baca untuk selalu mengingatkan kebesaran Allah.

Dibukanya surat Al Baqarah, tepatnya pada jus 3 yakni Ayatul Qursy. Ada perasaan damai dan tenang  saat ayat-ayat tersebut ia bacakan  hingga menembus ke dalam pori-pori.

Diantara peserta KKN tersebut hanya Rasty dan Zulfikar yang muslim sedangkan 8 teman mereka yang lain adalah Katholik dan Kristen Protestan. Hal ini tidak menjadi halangan bagi mereka untuk bersama. Walaupun berbeda keyakinan mereka saling menghargai dan menghormati , sebagai sesama.

Di lokasi KKN tidak memandang itu sebagai penghalang tetapi lebih sebagai perekat untuk menyatukan.

Bapak Kepala Desa Camplong pun adalah seorang yang sangat toleran. Begitu mengetahui bahwa ada peserta KKN yang Muslim, beliau langsung mensterilkan rumahnya. Hewan peliharaan yang biasa ke luar masuk rumah, tidak dibiarkan berkeliaran bebas.

Beliau sekeluarga bahkan tidak mengkonsumsi makanan khusus mereka. Kalau pun dipelihara seluruhnya diserahkan kepada penduduk yang mengurusnya untuk dijual.

Kami anak perempuan diberikan hak penuh menggunakan kamar anak perempuan sulungnya. Kamar yang kami pakai adalah milik Kakak Marince.

Sama seperti kamar cewek umumnya begitu kami memasukinya langsung betah. Walaupun tidak begitu besar tapi  kami merasa nyaman berada di dalamnya. Dinding kamar ditempeli dengan foto artis ibu kota. Cantik-cantik semua tanpa cela.

Para pria diberikan tempat untuk tidur di ruang tamu. Ada 2 tempat tidur yang biasa mereka gunakan untuk istirahat. Di bagian pojok ada televisi box merek ACDC  hitam putih yang setia menemani jika mereka kelelahan.

Listrik hanya menyala saat malam hari saja. Satu- satunya andalan pada saat itu adalah radio. Waktu itu Band Dewa 19 yang digawangi oleh Ahmad Dani dan kawan-kawan adalah idola anak muda. Semua lagu-lagunya menjadi andalan kami untuk dinyanyikan dalam setiap kesempatan. Hal ini karena semua peserta KKN adalah berstatus bujangan alias masih jomblo. Otomatis lagu-lagunya adalah lagu  romantis yang membangkitkan gelora dan semangat bagi kawula muda.

Ada juga band Padi dengan vocalisnya Fadli. Lagu-lagu Padi bercirikan melankolis dan bisa membuat pendengarnya terbawa perasaan.

Malam itu hanya diisi dengan kegiatan santai dan tidak ada komentar terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.

Para lelaki yang masih duduk bersama dan bercerita sambil menonton acara televisi. Hanya ada stasiun televisi RCTI  dan TVRI yang menjadi andalan.

Kebetulan saat KKN ada pertandingan sepak bola piala dunia yang dilaksanakan di negeri samba Brazil.

Masing-masing mempunyai jagoannya  sendiri. Ronaldo adalah bintang Brazil yang sangat diidolakan oleh semua orang. Sepak bola menjadi topik hangat yang tidak pernah terlewatkan dalam setiap kesempatan.

Indonesia belum bisa dipastikan mengikuti kegiatan bergengsi berskala besar tersebut karena terkendala teknis. Kita berharap suatu saat nanti negara kita juga bisa berlaga demi di kancah internasional agar bisa mendapatkan pengakuan dari negara lain karena prestasi.

Kami  para perempuan sudah berlayar ke pulau kasur  dan terbuai mimpi indah. Beristirahat untuk mempersiapkan fisik guna kunjungan ke dusun 4 esok hari. Kata Bapak Bertho dusun 4 letaknya di pinggir jalan raya lintas Timor arah menuju Pariti. Tidak terlalu jauh namun perjalanan esok hari adalah dalam  ikut serta dengan Bapak Desa menyelesaikan permasalahan tanah warisan. Pastinya seru dan membutuhkan banyak extra tenaga dan pikiran. Ika sebagai anak hukum yang akan menjadi moderator dalam kegiatan ini. Hal ini disampaikan oleh Pak Kades saat kami makan malam tadi.

Malam semakin larut kaum lelaki masih terjaga sambil bersenandung lagu Pupus. Zulfikar mulai mengeluarkan bakat terpendamnya dengan mulai menyanyikan lagu tersebut dengan diiringi Yoppy sebagai gitaris. Mendayu-dayu membuat kami terbang ke alam mimpi yang indah. Kak Angelino, Raffy dan Jondry hanya tertawa sambil melihat tingkah keduanya.

Sesekali memberikan komentar untuk penyanyi baru kami si Zulfikar. Sesekali mata' mereka tertuju pada layar televisi hitam putih itu untuk memastikan kapan pertandingan bola akan dimulai. Semakin malam semakin bertambah semangat Zulfikar bernyanyi dengan penuh penghayatan.

 

"Aku tak mengerti apa yang kurasa, Rindu yang tak pernah begitu hebatnya

Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu

Meski kau takkan pernah tahu

Aku persembahkan hidupku untukmu

Telah kurelakan hatiku padamu

Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa

Dan hati kecilku bicara

Baru kusadari

Cintaku bertepuk sebelah tangan

Kau buat remuk s'luruh hatiku

Semoga waktu akan mengilhami

Sisi hatimu yang beku

Semoga akan datang keajaiban

Hingga akhirnya kau pun mau

Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu

Meski kau takkan pernah tahu

Baru kusadari

Cintaku bertepuk sebelah tangan

Kau buat remuk s'luruh hatiku

Baru kusadari

Cintaku bertepuk sebelah tangan

Kau buat remuk s'luruh hatiku

Baru kusadari (uh, baru kusadari)

 

Semakin lama suaranya melemah  Zulfikar pun tumbang. Tanpa disadari dirinya sudah kelelahan dan tertidur dengan nyenyak.

"Dasar mata ayam baru begitu saja su tepar.Bagaimana mau nonton bareng kalau begini. Bisa kalah kita jadinya, "

Yoppy menggerutu.

"Sudahlah, mungkin dia kecapaian," kata Kak Angelino.

"Biar su kita yang nonton sah tak usah panggil dia, "Jondry menambahkan.

Malam itu mereka tak sendiri ada beberapa pemuda yang ikut bergabung. Mereka juga ingin menonton sepak bola. Ada Piter, Ayup, John, dan Daud. Bagi mereka kedatangan para mahasiswa ke Oenaek memberikan berkah tersendiri karena mereka jadi berani bergaul. Selama ini mereka dianggap mengganggu dan meresahkan masyarakat karena perbuatan tidak terpuji. Namun saat mahasiswa hadir dan merangkul mereka semua sifat yang tidak baik mereka tinggalkan.

Bagi para supir bis lintas Timor selalu menjadi momok menakutkan karena jika melewati daerah Camplong pasti akan dicegat oleh kelompok ini. Alih-alih hanya ingin meminta sejumlah uang untuk dijadikan tambahan membeli minuman keras atau alkohol. Jika tidak diberikan maka mereka akan menghadang di tengah jalan atau melempari bis dengan batu.

Hal ini sudah pernah dilaporkan ke polisi namun, terkadang aparat keamanan sudah bosan. Mereka sudah ditangkap dan bahkan sudah dipenjara namun tidak merasa jera.

Pendidikan yang rendah dan kemalasan membuat mereka merasa tidak ada tempat  untuk bisa menjadi seperti yang mereka inginkan. Bagi masyarakat setempat mereka dianggap sampah dan kotoran yang menempel dan membuat rusak nama kampung.

Namun bagi Kak Angelino dan kawan-kawan mereka sering dipanggil dan diajak diskusi. Terkadang menemani berkunjung ke desa. Siang tadi mereka tidak ikut karena ada pesta di Naibonat tempat pengungsian dari Timor Leste.

Malam ini mereka datang untuk menonton bersama. Bapak Desa pun merasa bersyukur karena mereka mulai menampakkan perubahan. Semua orang pasti berubah dan itu perlu proses, itulah inti dari pengabdian ini. Malam semakin sepi hanya ada suara hewan malam yang menemani mereka menonton.

 

                                                            

  

 

 


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda