NONA OENAEK (Cerita Misteri)
Bagian 1
Foto: Ilustrasi Nona Timor
Matahari baru saja terbenam di ujung barat. Burung-burung sudah pulang ke sarangnya masing-masing. Pohon-pohon tertunduk melepaskan energi yang sempat dikeluarkan sejak siang. Rembulan malu-malu dibalik awan yang sedikit kelam. Bintang-bintang menyapa dengan kelipan manja.
Di tengah hutan kelapa yang rimbun tampak sekelompok mahasiswa yang asyik bercerita dengan suara pelan. Tampak perjalanan mereka diterangi obor dari daun kelapa kering yang dipintal. Di depan mereka ada seorang bapak tua paruh baya sebagai penunjuk jalan. Jumlah mereka 10 orang, lima perempuan dan lima laki-laki. Tampak kelelahan terpancar pada wajah masing- masing. Tanpa suara hanya bunyi pijakan kaki menyentuh dedaunan kering yang terserak di tanah. Masing-masing serius berfokus pada jalan yang dilalui sambil memperhatikan kiri kanannya. Di tengah hutan yang gelap apa saja bisa terjadi entah itu binatang buas atau yang lainnya.
Rasty sebagai salah satu dari mereka tak putus-putusnya berzikir dalam hati mengingat kebesaran Allah. Ayat Kursi sebagai penguat kakinya untuk terus melangkah terus saja mengalir dari lisannya tanpa suara. Rekannya Zulkarnain tetap memberi semangat dengan terus menggenggam tangannya.
Mereka adalah rombongan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dari kampus Nusa Karange.Rasty, Maria, Yuli, dan Eshy berasal dari fakultas yang sama namun beda jurusan, yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.Sedangkan Ika berasal dari Fakultas Hukum. Mereka adalah perempuan hebat yang bisa diharapkan untuk menaklukkan kerasnya tanah Camplong.
Para lelaki Raffi dan Angelino berasal dari fakultas keguruan juga, Yoppy dan Zulkarnain fakultas pertanian. Hanya seorang saja yang berasal dari fakultas teknik Jondri.
KKN sebagai salah satu mata kuliah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa.
Mata kuliah ini mengajarkan secara langsung bagaimana seorang mahasiswa bisa menempatkan dirinya sebagai anggota masyarakat. Pelaksanaannya selama kurang lebih 3 bulan dengan bimbingan dosen. Namun sang dosen tidak setiap hari berkunjung, ada waktu tertentu yang biasa digunakan.
Seperti saat ini mereka melakukan kunjungan ke dusun 3 hanya ditemani oleh Bapak Berto kebetulan Bapak Kepala Desa sedang mengikuti kegiatan di kabupaten. Beliaulah yang menjadi kompas penunjuk arah saat pergi dan pulang.
Sebelum berangkat beliau berpesan kepada kami bahwa tempat yang akan kami tuju lokasinya lumayan dan tidak bisa dijangkau dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Apakah kami siap untuk misi ini? Sebagai mahasiswa kami katakan siap ke mana saja asal ada yang menemani. Pak Berto pun mengiyakan untuk mengantar kami dengan syarat tidak boleh bertanya yang aneh-aneh jika menemukan sesuatu yang ganjil atau tidak biasa. Diam saja.
Bila sudah sampai di sana, jangan menolak jika ditawari makanan atau minuman. Orang kampung akan merasa senang dan bahagia jika suguhan mereka kita nikmati. Biasanya mereka akan menyajikan sirih dan pinang. Kalau tidak suka terima saja, nanti selesai baru diberikan kepada teman yang lain.
Itulah hidup yang sesungguhnya ada yang tidak pernah kita pelajari akan kita alami di dunia nyata.
"Rasty, kamu masih punya minuman. Saya haus nii," Zul tiba-tiba bersuara dalam keheningan.
"Yeah air saya habis tadi. Mungkin yang lain. Sebentar saya tanya dulu," Rasty membalasnya.
"Kak Eshy, air minumnya masih ada? Nich si Zul kehausan."
"Ada ni, sayang. Kasihan anak mami haus ya. Sini Kakak kasih minum, " balas Kak Eshy.
Kami sudah biasa saling bercanda dan tertawa. Dalam kelompok ini kami sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara, kalau ada perasaan yang lain sebaiknya simpan sendiri.
"Glek...glek..glek... Alhamdulillah, Zul sudah sonde haus lai."
Ssstttt jangan terlalu ribut, kita sudah di tengah hutan. Hati-hati perhatikan kiri kanan dan sekitar ya," Kak Angelino selaku ketua memberi peringatan.
"Anak dong di depan kita ada sungai kecil, karena gelap kita harus berpegangan satu sama lain. Bapak akan berdiri di depan, dua lelaki memegang yang perempuan dan tiga lainnya bagian belakang. Air lumayan deras, jadi hati-hati ya, jangan sampai terantuk atau tergelincir. Sebelum kita menyeberang mari kita berdoa bersama. Berdoa selesai," kata Pak Berto.
"Bismillahirrahmanirrahim, ayo Rasty pegangan yang kuat," kata Zul.
"Zul, kamu koq cuman pegangan sama Rasty kami yang lain juga dong,"Ika pura-pura ngomel.
"Iya, saya pegangin semua. Sini pelan-pelan ya sayang dong."
"Huuuuhhh, modus, Yoppy yang sedari tadi diam mulai buka suara.
"Sssstttt sudah, sudah,"Kak Angelo memberi peringatan.
Mereka berhasil melewati sungai tersebut dengan selamat. Kata Pak Berto, kalau musim hujan biasanya banjir besar dan tidak bisa dilewati. Kami beruntung karena kemungkinan di hulu belum turun hujan.
Di telinga mulai terdengar suara hewan malam yang mulai keluar sarang. Ada perasaan aneh dan sedikit merinding bulu kuduk dengan suasana itu.
Astaghfirullah, Ya Allah lindungilah kami, Rasty terus berzikir sepanjang jalan.
Tampak di kejauhan pemandangan alam yang begitu indah. Lautan yang begitu luas menghampar dengan kelip lampu nelayan.
Foto: Pemandangan Alam
Mereka yang berada di ketinggian merasakan betapa luar biasa, maha karya Sang Pencipta. Masing- masing tunduk seraya mengucap syukur atas karunia yang telah mereka saksikan. Perasaan sebagai makhluk yang lemah dan tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Betapa sebagai manusia kita tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ciptaan yang begitu agung.
"Ayo percepatkan langkah, jangan kasih kendor. Kita harus sudah sampai di rumah sebelum jam 8 malam ini, " kata Pak Berto.
"Memang kenapa Pak," Maria tiba-tiba bertanya.
"Hush, jangan banyak tanya. Diam-diam dan ikut saja, "Kak Essy menimpali.
Semua terdiam dan melanjutkan perjalanan. Satu-satunya senter sebagai sumber penerangan milik Kak Raffi sudah habis battreinya. Daun kelapa kering yang akhirnya menjadi senter alami hingga kami tiba di rumah kepala desa.
"Syukurlah kalian sudah sampai, tadi Bapak mau minta tolong anak-anak sini untuk mengikuti kalian, " kata kepala desa.
"Alhamdulillah, Puji Tuhan. Kami sampai dengan selamat. Lumayan Bapa perjalanan hari ini. Kami semua senang sekali karena bisa bertemu dengan warga dusun 3. Mereka baik-baik semua, " Kak Angelo menjelaskan.
"Istirahat sebentar, setelah itu mandi ya. Tapi ingat kamar mandi yang dekat kolam itu cukup anak perempuan yang laki-laki jangan, "Mama desa memberi peringatan.
"Oke, siap Mama."
‘’Kalau begitu kalian yang laki-laki sebaiknya mandi terlebih dahulu, kami yang perempuan akan menyiapkan makan malam, " kata Kak Essy.
"Kenapa mama berkata seperti itu, apakah ada sesuatu yang tidak kami ketahui. Ah sudahlah capek, mendingan masak, mandi dan istirahat. Besok akan ada kunjungan lagi ke dusun 4, "Rasty mencoba mencerna apa yang disampaikan Mama Desa.
Kami semua yang menjalani program KKN di Oenaek Desa Camplong 2 tinggal bersama Bapak Kepala Desa dan Istri. Kebetulan anak-anak beliau sudah ada yang menikah dan merantau ke Jawa. Rumah yang besar itu hanya dihuni oleh mereka berdua, dua orang anak perempuan yang satu baru kelas 3 SD si Oma dan Meylan yang baru kelas 1 SMP. terkadang ada keluarga dari pedalaman yang datang untuk menginap. Ada supir dan kernet yang juga sering datang jika trayekan sudah selesai.
Bapak Desa asli adalah orang asli pulau Timor yang memiliki harta peninggalan yang banyak. Sawah yang luas dan sapi yang di gembalakan di padang rumput yang luas tanpa kandang.
Foto :
Kalung Timor
Kami bersyukur selama kegiatan berlangsung kami tidak pernah sekalipun membeli beras. Inilah ciri orang Timor selalu berbagi dengan sesama tanpa pandang bulu. Kami yang hanya sebagai mahasiswa sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.
Mama desa, meski pun ada begitu banyak beras beliau lebih suka makan jagung katemak. Yakni bulir jagung kering yang sudah dipisahkan dari tongkolnya direbus bersama kacang merah,daun pepaya dan buah labu. Rasanya sangat nikmat jika dimakan dengan parutan kelapa dan sambil tomat. Kata Mama, inilah makanan kami orang desa.
Ternyata makanan ini lebih sehat dan bergizi. Banyak orang yang harus mengganti beras dengan jagung untuk mengurangi kadar gula dalam darah. Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh beraneka macam olahan makanan yang sudah tidak bergizi lagi karena sudah mengandung banyak zat-zat kimia.
Rasty pun segera ke dapur menyusul Kak Essy , Yuli, Maria, dan Ika. Masing-masing sudah bersiap di depan tugasnya masing-masing sambil bercanda. Sesekali mengingat kembali perjalan siang mereka tadi yang penuh dengan keletihan dan ketegangan karena harus kembali saat hari mulai gelap.
Kaum lelaki sudah mulai antri di kamar mandi. ‘’ lucu eee, seharusnya laki-laki yang jaga perempuan mandi ini malah terbalij,’’ Yuli mencoba untuk menggoda Jondri. Hal ini karena dari mereka semua Jondri adalah yang paling muda dan memiliki sifat pemalu.
‘’ Diamlah, dan ayo masak. Kamu tidak capekkah? ‘’Kak Essy dengan aksen Belu meminta Yuli untuk diam. Nona Manggarai ini dari tadi Cuma diam saja di jalan, tapi begitu sampai di rumah energinya langsung full. Kami saling melirik dan berkata,,’’ su rasa, sapa suruh ganggu orang.’’
Biar eee, kamu jengkel ko? Saya pung suka ko,’’ . Yuli balas menghardik.
‘’Sudah, sudah jangan ribut saja. Lihat nasinya sudah mau kering. Apinya dikecilkan biar tidak hangus. Kalian ini kalau di rumah saja ributnya minta ampun tapi tadi di jalan mengheningkan cipta..’’
‘’Kaka eee, tadi tu kami mau ribut-ribut di jalan tapi kan disuruh diam sama ketua. Ya terpaksa kami diam.’’
‘’Sudah tak usah sambung lagi. Ayo siapa yang mau mandi duluan. Lihat sana yang laki-laki semuanya sudah selesai mandi, ‘’ kata Kak Essy lagi.
Kakak Essy, lengkapnya Theresia Klau nona asli Belu Atambua sudah seperti kakak perempuan bagi kami. Umurnya dua tahun di atas kami memiliki sifat penyabar dan keibuan sekali. Jika tamat dari FKIP dia akan menjadi pengajar matematika. Setiap kata yang ke luar dari lisannya adalah perintah dan tidak boleh dibantah dan aturan itu adalah hasil kesepakatan kami.
Selain itu ada Kakak Angelino Monis, dari namanya kita bisa tahu berasal dari mana ia. Ya orang Timor Leste. Ia didapuk sebagai Ketua untuk kami. Sama seperti Kak Essy, kak Angelino bertanggung jawab penuh terhadap kami bersepuluh.

11 Komentar:
kereen bunda ngajar di Timor jadi tahu dan paham budaya mereka.
Wah, penasaran kelanjutan ceritanya, Bun.
Ditunggu banget loh untuk bagian 2 nya.
Luar biasa Bunda
Ini memang nyata bukan sekedar cerpen
I like it
Semangat bun, siap selalu cerita selanjutnya
👌👍💪🤩😍🥰
Bunda, ini kisah waktu KKN Bun🙏🙏🙏
Hore, oke Ade ditunggu ya 🙏🙏🙏
Oke sip ditunggu ya 🙏🙏🙏
Ditunggu karya2 selanjutnya kk guru👏👏👍
Hahhahahha mantapz ly...cerita ini mngingtknku utk kmbali😥😍
Semoga suatu saat kita bisa reuni sekalian di sana eee Kak sayang 😘
Semoga suatu saat kita bisa reuni di Camplong lagi 😘😀😀
Yoi say....ada lucu haruu seruu bacampur smua😍😍😃
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda