Jumat, 03 September 2021

CERITA SEBELUM TIDUR

 

 

Mata ini baru saja hendak terpejam, hendak berlayar ke pulau kasur. Indo sudah berhasil kubujuk untuk tidur karena sudah hampir tengah malam. Rencananya aku mau mematikan setelan jaringan internet yang ada pada gawaiku.

Alhamdulillah Diklat Menulis Buku berISBN bersama Pak Eko sang pena dari Gunung Lawu sebagai narasumber berkolaborasi dengan Nona Uce sang perawat multi talenta seolah menunda waktu tidurku.

Materi yang padat tentang "The Power Pada suatu hari" membiusku untuk harus menulis sesuatu sebelum mata ini benar-benar terpejam.

Rangakaian kalimat yang kubaca sambil sesekali melirik pada slide yang ditampilkan menambah citarasa nikmatnya menulis yang dibumbui dengan semangat yang membara.

Kepercayaan diri semakin tertantang untuk mencoba menahan rasa kantuk yang terus bermain di pelupuk mata. Mencoba untuk membuat tulisan yang berkaitan dengan tema yang disajikan. Jika saya langsung tidur berarti keinginan untuk mengeluarkan segala yang ada pasti akan terasa basi, jika dilanjutkan besok.

Sekonyong-konyong gawaiku berdenting tring. Secara spontan kubuka What's Up Grup IMB mungkinkah ada chattingan yang baru masuk. Tidak ada ternyata. Masih tentang ucapan terima kasih dari Pak Eko dan Kak Nus atas partisipasi kami mengikuti kegiatan malam ini.

Setelah kucek kembali ternyata ada pemberitahuan pada mesangerku. Ada seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku yang menyapa dengan salam.

Dia adalah seorang ibu guru sama sepertiku hanya kami beda sekolah dan beda jenjang. Ia berasal dari Bima NTB, suaminya seorang polisi dan memiliki 2 orang anak. Dahulu kami bertetangga dekat karena mereka menyewa tempat tinggal keluargaku. Kini mereka menetap di asrama polisi. Namanya Ibu Yunda masih muda dan cantik. 

"Assalamualaikum Kaka, masih mengajar di Me***g? "katanya.

"Walaikumsalam iya nich sayang, bagaimana", balasku.

"Kaka eee ada anak sekolah yang maki saya nii, sekolah di sana?"

"Maksudnya bagaimana Bu Guru, saya kurang paham nii."

"Ada mantan siswa saya yang bersekolah di sekolahnya Kakak. Kemarin dia mengeluarkan kata- kata yang tidak sopan terhadap saya di Facebook. Saya sakit hati sekali, mau bicara dengan suami takutnya nanti emosi. Jadi saya berpikir lebih baik saya bicara dengan Kakak biar diurus di sekolah," katanya.

"Tapi Bu Guru, persoalannya sekarang kalimat yang dikeluarkan itu adalah percakapan yang terjadi di media sosial antara mantan siswa itu. Kami tidak bisa ambil tindakan lebih karena bukan kapasitas nya karena grup itu dibentuk saat siswa masih menjadi murid ibu.

"Aduh Kakak eee saya sakit hati sekali, kita sudah berusaha supaya mereka bisa lulus dengan situasi Pandemi begini, tapi balasannya seperti itu. "

"Ibu Guru tidak minta keluar atau left saja, biar tidak ada persoalan."

"Sudah Kak tapi mereka tidak mau. "Aku pun bingung harus bagaimana. "

"Saya punya usul, begini. Sebaiknya Bu Guru bicara dengan suami dan pergi langsung ke rumahnya." Ketemu orang tua dan bila perlu dengan yang bersangkutan. Cerita semua unek-unek dan kesesalan di sana. Kira-kira tanggapan orang tuanya seperti apa."

"Bila perlu sebut UU ITE, aku yakin mereka pasti tidak paham. Bu Guru harus kuat biar bisa menghadapinya agar anak tersebut bisa jera dan tidak sembarang menggunakan media sosial.

Saya bisa saja sampaikan ke guru BP untuk melakukan pembinaan tapi secara umum, tidak bisa personal.

Kebetulan tahun ini untuk kelas 10 saya hanya mengajar 2 kelas saja. Dan nama itu tidak ada pada kelas yang saya ajari.Tapi aku  akan berkonsultasi dengan kesiswaan dan guru BP agar selalu mengawasi siswa tersebut.

Mata ini akhirnya kembali terbuka karena rasa kantukku seketika hilang. Ada perasaan gundah mengingat curhatan adik guru tersebut. Merasa diremehkan dan dilecehkan oleh siswa yang pernah dididik melalui media sosial.

Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan sekarang ini yang katanya lebih maju ketimbang jaman kami dulu. Saat semua serba canggih ternyata akhlak dan moral yang dipertaruhkan.

Zaman sudh berubah banyak nilai-nilai kehidupan yang mulai tergerus oleh perkembangan. Etika dan moral yang menjadi kunci kehidupan seolah ditinggalkan. Kurangnya perhatian orang tua dan situasi pandemic yang terus berkepanjangan menjadikan anak-anak lebih focus dengan gadgetmya. Permainan –permainan online  bebas dimainkan oleh mereka tanpa adanya pengawasn orang tua. Alhasil kata-kata kasar atau yang tak berdidik mudah untuk diaksesa oleh mereka.

Pekerjaan rumah bagiku untuk bisa mencari solusi terbaik bagi persoalan ini. Mungkin ada banyak Ibu Guru Yunda-Yunda lain yang mengalami hal serupa. Sakit memang sakit tapi ini bukan hanya tanggung jawab guru tapi orang tua pun punya kewajiban yang sama.Karena setiap anak adalah amanat yang harus dididik untuk menjadi manusia yang berguna.

Kalabahi, 26 Agustus 2021 

terinspirasi '' The Power of Pada Suatu Hari''

 

 

 


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda