Minggu, 12 September 2021

CANTIKA EXPRESS


                                            

                                                             Pelabuhan Dulionong ALOR

Cantika Express 77 baru saja meninggalkan pelabuhan Dulionong. Tidak banyak penumpang yang ikutan berlayar. Padahal ini adalah musim liburan kenaikan kelas. Hal ini dikarenakan situasi Pandemi Covid yang semakin merajalela. Mahalnya harga tiket dan rapid antigen untuk menunjukkan apakah kita layak atau tidak untuk bepergian membuat orang-orang harus berpikir panjang jika ingin melakukan suatu perjalanan.

Aku sebenarnya pun tidak berniat untuk liburan, tapi karena dua jagoanku sudah terlebih dahulu menginjakkan kaki mereka di kota karang.  Mau tidak mau aku harus menyusul ke sana. Kebetulan bertepatan dengan ada saudara yang mau melakukan Walimatul Ursyi. Sebagai sesama saudara aku terpaksa mengiyakan saat adik bungsuku memintaku untuk hadir juga. Insyaallah saya pasti ke sana. Kebetulan yang menikah adalah anak dari adik sepupunya Bapak yang sudah berpulang ke Rahmatullah.

Baru kali ini saya merasakan gelombang yang teramat dahsyat.  Dihantam dari segala sisi tanpa permisi. Perjalanan dengan Cantika Express 77 terasa sangat lama dan panjang. Alunan dan goyangannya serasa dalam buaian ibu, nikmatnya terasa hingga ke rongga dada.

Kairo sudah tidur sejak tadi sesaat sebelum kapal meninggalkan pelabuhan Dulionong. Indo yang masih semangat bermain handphonenya KK Fitri. Sesaat dia mengatakan ingin makan. Segera kubuka Tupperware tempat bekal kamj untuk mengambil nasi dan opor ayam untuk makannya. " Sedikit saja Bun, Indo kenyang, katanya. "Oke baiklah, KK Fit yang suap ya. Terus kalian tidur semua..

             Di bagian belakang terdengar ada yang sudah mulai mabuk perjalanan. Desahan dan lenguhan karena mual serasa ingin mengeluarkan segala isi perut. Beruntungnya saya Kairo dan Indo tidak mabuk. Si Fitri pun demikian, Sukri adik sepupuku yang makan sedikit saja. Selanjutnya ikutan tidur bersama yang lain. Saya sendiri menyempatkan diri untuk membaca buku Purwakarya Literasi sebagai tanda mengurangi kebosanan dalam kapal. Namun hantaman gelombang saat memasuki selat

Ombay, membuat saya pun sempat tertidur beberapa menit. Tidak ada istilah mabuk perjalanan dalam kamus pribadi saya. Baik itu untuk perjalanan darat, udara maupun laut. Mungkin karena saya selalu merasa santai dan nyaman saat akan melakukannya. Jadi yeah beginilah jadinya, saat semua tertidur saya malah nonton film pendek yang diputar oleh ABK.

Melihat ke luar jendela nampak lautan mengkilat tertimpa pantulan sinar matahari. Laksana permadani biru yang menghampar luas tanpa batas. Sebagai makhluk dalam kapal ukuran ini saya merasa kecil dan tak berarti jika dibandingkan dengan kebesaran dan keagungan Allah.

Saya merasa malu pada diri sendiri yang sering menganggap segala sesuatu dengan sombong dan angkuh. Tak pernah peduli terhadap sesama dan perasaan orang lain. Di tengah lautan ini saya merasa hidup ini hanyalah sebuah persinggahan sementara untuk kita menyiapkan bekal untuk hari kemudian. Tiada yang abadi.

Perjalanan masih panjang lautan masih terbentang di depan. Goyangan sang Dewi laut mulai lembut dan beraturan sesuai dengan irama alam. Tak ada hentakan dan guncangan, semakin terbuai alunan musik yang sayup-sayup terdengar dari ruang kapten.

"30 Menit lagi Express Cantika 77 akan segera berlabuh di Pelabuhan Tenau Kupang. Bagi para penumpang yang membawa barang agar memperhatikan bawaannya sebelum turun", demikian sound yang terdengar dari pengeras suara. 

"Bunda, kita su mau sampe nii, Indo su tidak sabar lagi mau cepat turun. "Sabar sayang pelan-pelan dulu, kita antri biar tidak tabrakan dengan orang lain", sambutku.

"Hore, kita sampe Kupang. Bunda, Indo senang sekali bisa ketemu dengan Kaila dong.

Kami pun segera turun dengan ucapan syukur Alhamdulillah karena telah tiba dengan selamat, meski pun ada tragedi Kairo dengan Indo yang mabuk dan muntah. Kota karang I' m coming.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda